Kamis, 17 Desember 2009

Negaraku dan Prestasiku

Berbicara mengenai pembangunan negeri ini dalam hal teknologi, tentu juga akan berbicara mengenai sumber daya manusia yang ada. Sedikit terusik dengan mobil atas nama ‘Lamborghini Madura’ yang akan diproduksi awal 2016 dengan teknologi hybrid. Suatu apresiasi yang cukup menggembirakan untuk pulau yang terkenal dengan karaban sapi ini. Terusik untuk melakukan yang sama, baiknya kita juga bukan menjadi orang yang malu untuk memamerkan kekayaan Indonesia.
Hal ini dibahas pula dalam perbincangan di salah satu acara di Radio Semarang, sedang dicari ide-ide kreatif yang mengutip dan mengambil nama dari obyek kekayaan yang dimiliki Indonesia. Hal inilah yang harusnya selalu ada dalam benak generasi muda Indonesia untuk selalu bangga atas apa yang dimilki oleh Indonesia.
Berbicara mengenai teknologi yang harapannya bisa kita kembangkan untuk kemajuan pembangunan Indonesia, bukan bagaimana kita menyalahkan peneliti dan pemerintah atas teknologi yang kita peroleh sekarang. Namun kembali lagi, ini adalah tugas kita bersama. Bahkan manusia dengan status ‘mahasiswa’ lah yang paling bertanggung jawab atas inovasi-inovasi tersebut.
Disisi lain, ketika sudah banyak inovasi yang dihasilkan, tidak semuanya dapat dijadikan barang komersil yang bisa dijual sebagai produk ciri khas Indonesia. Berkunjung ke LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Yogyakarta, banyak inovasi yang dihasilkan disana. Badan pemerintah di bawah Kementerian Negara Riset dan Teknologi ini telah melakukan banyak penelitian di bidang pertanian, perkebunan, energy, makanan dan minuman serta bahan kajian lainnya. LIPI Yogyakarta ini pun sudah menjual produknya di pasar sekitar Yogyakarta. Namun ketika ditanya mengenai prospek penjualan dan kerjasama dengan perusahaan besar, hal ini lah yang masih menjadi kendala.
Mencari jawaban atas pandangan perusahaan –perusahaan besar di Indonesia mengenai inovasi yang dihasilkan bangsa ini, sempat saya berbincang dengan perusahaan mobil terbesar Jepang di Indonesia yaitu Daihatsu. Sudah saya sampaikan mengenai tanggapan mereka mengenai mobil Arina yakni mobil komersil buatan Indonesia dan juga mobil hemat energy yang dihasilkan oleh mahasiswa UNNES (Universitas Negeri Semarang) yang telah mendapat dana dari Gubernur Jawa Tengah dan pernah di liput dalam acara EMPAT MATA TRANS 7, menurut mereka hal ini kembali lagi kepada permintaan pasar dan kemungkinan bargaining position yang diberikan oleh produk tersebut. Hal ini yang kemudian saya sampaikan kepada Daihatsu, ketika model dan teknologi yang mereka terapkan secara keseluruhan adalah mengadopsi dari Jepang dan Amerika.
Kembali kepada permintaan pasar dan kurangnya apresiasi. Sempat terhenyak ketika menghadapi kenyataan dalam suatu kegiatan. Lomba karya tulis yang bisa berlanjut dengan inovasi dan solusi permasalahan kompleks yang dialami negeri ini, ternyata terbiasa hanya diberi apresiasi sekitar Rp 500.000,00. Karya tulis yang tersebut telah dihasilkan dengan pemikiran mendalam, seleksi yang ketat dan juga pembuatan yang tidak mudah karena bolak-balik asistensi dengan dosen serta pembuatan yang tidak murah karena memperbanyak dan lain sebagainya. Ternyata wujud apresiasinya adalah dengan Rp 1.000.000,00 hingga Rp 200.000,00. Berbeda halnya ketika anda memberikan fee kepada pekerja seni selesai menyanyi ataupun menari. Hanya dengan 5 menit tampil, mereka bisa memperoleh Rp 200.000,00 hingga Rp 500.000,00. Inilah ironi yang sesungguhnya, tidak heran jika produk karya ilmiah kita masih kalah dengan Jepang, Cina dan tidak usah jauh-jauh yaitu Malaysia dan Thailand.
Hmmm, kembali kalah dengan Malaysia dalam hal riset. Sudah berulang kali kita pun sakit hati dengan negara tetangga kita ini. Entah mengenai tarian, pulau, nyanyian yang dicuri, bahkan TKI-TKW pun sering berselisih. Namun, terimalah bahwa mereka punya menara tertinggi di dunia. Terimalah bahwa Malaysia peringkat 4 SEAGAMES sedangkan kita 5. Terimalah bahwa University of Malaysia peringkat ke 71 universitas se-Asia sedangkan UI pun hanya peringkat 100-an. Bukan bermaksud untuk mengunggulkan, namun marilah saudarakuh untuk terus berprestasi. Teruslah berprestasi sebagai previlage diri sendiri dan kontribusi kepada negeri ini bahwa kamu bukan pemuda yang pasif.
Memperoleh kesempatan berkunjung ke perusahaan mobil Daihatsu di Sunter Jakarta, satu hal yang harus kita tiru dari mereka. Diluar bagaimana mereka menerapkan istilah-istilah Jepang dalam produksi dan kesehariaannya, prinsip kerja yang selalu mereka junjung adalah Kaizen. Prinsip yang diperkenalkan oleh Wattasy Iway ini berarti ‘perubahan yang terus menerus’. System menarik yang dibiasakan oleh system perusahaan tersebut adalah Sugestion System. Setiap karyawan diwajibkan memberikan 5 saran perminggunya. Hasilnya pun luar biasa, selalu ada perbaikan dalam produksinya dan award bagi pemberi saran yang aplikatif. Hal ini pula lah yang diaplikasikan oleh negara maju dan perusahaan Jepang lain. Tak ayal, jika Indonesia masih seperti ini karena kita pun hanya puas dengan comfort zone hingga menjadikan kita sebagai konsumen teknologi. Teruslah berinovasi mengenai teknologi yang aplikatif. Jangan puas hanya dengan membawa ponsel Blackberry. Terus berinovasi. Inovasi membangun negeri!

oleh :
Lamiya Mu’nisatus Zahro
Kepala Departemen Riset dan Teknologi BEM FT UNDIP
Teknik kimia 2006

Tidak ada komentar:

Posting Komentar